13/10/10
11/10/10
Peluang Bisnis Sepatu Branded KW 1
kualitas dijamin OK
With Box
Harga terjangkau (murah gan)

(Fajar)
KEPERCAYAAN ANDA TERHADAP KAMI MERUPAKAN SEBUAH PENGHARGAAN DAN KUNCI SUKSES BISNIS KITA
Bagi Agan-agan yang ingin punya usaha atau sudah mempunyai toko / distro di seluruh Indonesia dan sedang mencari distributor sepatu, Saya punya penawaran menarik. Saya jual aneka sepatu branded KW1 secara grosir atau eceran. harga sepatu ini masih tinggi di pasaran,jadi jangan ragu untuk memulai bisnis ini.berikut paket bisnis yang saya tawarkan.
SHOPPAHOLICALT.COM
PAKET HOME
Rp.2.000.000
20 pasang, 10 atau 20 model, 2 atau pilih ukuran,brand c*nverse, lengkap dengan box. (harga nett,ukuran dan model bebas pilih)belum dengan ongkir.
Rp.4.000.000
- 20 pasang, 10 atau 20 model, 2 atau pilih ukuran,brand c*nverse, lengkap dengan box.
- 12 pasang 6 model, brand v*ns,macb*th,DC,circ*,*mericas.(open nego,ukuran dan model bebas pilih) ongkir bayar setengah.
PAKET STORE
Rp.5.000.000 - Tak terbatas (sesuai permintaan)
Per pasang Rp.90.000 untuk brand c*nverse (harga nett)
Per pasang Rp.165.000 untuk brand v*ns,macb*th,DC,circ*,*mericas
(open nego,ukuran dan model bebas pilih)
dengan box dan ongkos kirim bayar setengah - gratis(tergantung daerah)
Model dan harga pasaran liat di website Saya:
SHOPPAHOLICALT.COM
KETENTUAN :
- Harga boleh Nego untuk paket tertentu (lihat keterangan) hubungi 085718822989 (Fajar) untuk menanyakan informasi, via YM : famouz_rebell696
- Penentuan biaya kirim ditentukan oleh client,bebas memilih expedisi atau jasa kurir yang diinginkan.
- Pembayaran via TRANSFER BANK BCA / BRI atau BERTEMU. jika jarak tidak memungkinkan bertemu, BUKTI TRANSAKSI TRANSFER BANK ANDA adalah JAMINAN.
- Barang diproduksi setelah client membayar LUNAS.
- Pernyataan privasi SHOPPAHOLICALT, baca Disini.
Bukti Resi pengiriman Barang eceran :



Hubungi Saya :
HP : 085718822989
Telp :021-8818302
E-mail : shoppaholicalt@gmail.com
Yahoo messenger : famouz_rebell696
21/04/10
CAFTA dan Peran Etnis Tionghoa
Tentu saja etnis Tionghoa di Tanah Air tidak boleh berpuas diri dengan peran yang sudah dilakukan selama ini. Karena kita tahu, tantangan yang harus dihadapi bangsa ini pada saat ini atau ke depannya jelas kian berat dan kompleks. Salah satu tantangan terbesar sekaligus terberat kita adalah implementasi China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) yang sudah mulai berlaku sejak awal tahun 2010. Memang sudah banyak pembahasan tentang CAFTA. Bahkan, di Kantor Sinar Harapan belum lama ini digelar seminar “Peluang dan Tantangan CAFTA” yang dihadiri oleh mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat China Sudrajat, Ketua Umum LIC Sukamdani S Gitosardjono, Ketua Apindo Sofyan Wanandi, pengusaha The Ning King, Direktur Utama PT Sinar Harapan Persada Susanto Sjahir, dan moderator Eka Budianta (Sinar Harapan, 10 Maret 2010).
Anehnya, berbagai pembahasan CAFTA jarang yang menyinggung peran etnis Tionghoa dalam CAFTA. Karena itu seiring harapan Presiden SBY di atas, ada baiknya etnis Tionghoa berperan lebih seiring dengan diimplementasikannya CAFTA.
Kecemasan dan Harapan
Ada yang berpendapat, pasar bebas di mana pun hanya akan memberi tempat pada yang kuat, baik dari sisi modal, kapital maupun kuat dari sisi sumber daya manusia (SDM). Seperti diketahui, China adalah negeri dengan PDB terbesar di antara sebelas negara penandatangan CAFTA, yakni US$ 4.327,4 miliar dan jumlah penduduknya 1,3 miliar jiwa. Serbuan produk China ditakutkan bisa mematikan ekonomi kita, khususnya di level kecil dan menengah.
Tidak heran jika kemudian berkembang wacana agar penerapan CAFTA ditunda dulu, karena kita belum siap bersaing. Namun juga berkembang wacana, CAFTA adalah keniscayaan. Indonesia tidak mungkin menunda, karena CAFTA sudah dirintis sejak 1992 di KTT AFTA di Bogor. CAFTA juga tetap memberi peluang baik, asal kita cerdas. Sementara itu, di sisi lain juga menyeruak rasa optimisme. Karena berdasarkan bukti-bukti sejarah kontak antara China dengan negeri ini ketika masih disebut Nusantara, China tidak pernah menerapkan pendekatan represif, apalagi menjajah. Justru dari beragam bukti sejarah, kontak dengan China ikut mengembangkan peradaban kita.
Kita berharap saja, CAFTA tidak membuat pemerintah China saat ini melupakan bukti-bukti sejarah masa lalu tersebut. Tetapi jujur, kita memang digelayuti perasaan cemas, khususnya ketika melihat serbuan produk China sejak CAFTA diterapkan 1 Januari 2010.
Nah, dalam konteks ini, 15 juta warga negara Indonesia yang beretnis Tionghoa bisa tampil sebagai tameng dan penyelamat. Karena macan Asia atau bahkan macan dunia seperti Tiongkok memang sulit untuk disaingi. Amerika Serikat saja saja kelabakan dan mencari berbagai alasan tiap kali hendak bersaing secara frontal dengan China. Demikian pula banyak negara lain, seperti Uni Eropa atau Australia.
Untuk itu, etnis Tionghoa di Tanah Air bisa berperan dan berkontribusi lebih besar dalam menyikapi CAFTA. Sudah terbukti dalam perjalanan sejarah, ketika semua etnis di Tanah Air dilibatkan, termasuk etnis Tionghoa, masalah-masalah besar yang dihadapi negeri ini bisa terpecahkan. Dalam krisis keuangan global pada 2009 lalu, misalnya, jelas ada peran yang tidak kecil dari etnis ini. Berbeda dengan tahun 1998, ketika ada pelarian modal yang dilakukan etnis Tionghoa, sehingga banyak dana diparkir di luar negeri seperti Singapura, krisis moneter 1998 amat telak memukul negeri ini.
Tentu melibatkan etnis Tionghoa untuk berperan lebih besar dalam menyikapi CAFTA yang membutuhkan kepercayaan. Semisal, jangan ada keragu-raguan terkait komitmen nasionalisme atau patriotisme dari etnis ini.
Saling percaya antara sesama warga bangsa harus ditumbuhkan. Kecurigaan bahwa etnis ini pasti akan lebih berpihak pada Tiongkok dan mengabaikan kepentingan nasional, harus diakhiri. Peran atau kontribusi itu konkretnya bisa dicari atau digali dari etnis Tionghoa.
Berbagai hal yang strategis untuk melindungi kepentingan nasional kita seiring implementasi CAFTA, harus dirumuskan. Misalnya, tentang kiat berdagang dengan China, jelas yang ahli adalah para eksportir atau importir, serta pelaku dalam jaringan perdagangan antara Tiongkok dan Indonesia.
Lalu para pakar soal China seperti I Wibowo dari Universitas Indonesia, juga para pelaku bisnis beretnis Tionghoa seperti Ciputra, Mochtar Riyadi atau Ali Markus dan sebagainya, bisa dimintai pandangannya tentang caranya memformulasikan strategi paling efektif dalam berhadapan dengan China.
Kalau tiap masalah diserahkan pada ahlinya, jelas akan lebih mudah dipecahkan. Dengan memiliki strategi yang jitu dan dirumuskan secara sistematis, jelas kita akan tampil lebih siap dalam menghadapi pasar bebas, khususnya dalam menghadapi Tiongkok.
Yang penting lagi, para pengusaha Tionghoa di Indonesia juga jangan gampang mem-PHK dalam menyikapi CAFTA. Masalahnya, ada ketakutan besar di berbagai organisasi pekerja bahwa akan ada jutaan pekerja di-PHK seiring penerapan CAFTA. Tingkat pemutusan hubungan kerja akibat implementasi perjanjian perdagangan bebas ASEAN dan China berpotensi meningkat.
Menurut Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto, sekitar 7,5 juta buruh kemungkinan bisa di-PHK. Yang ditakutkan lagi, banyak buruh justru berpikir jangan-jangan CAFTA hanya akan dijadikan alasan untuk mem-PHK buruh. Ketakutan akan PHK ini bukan hanya terjadi di negeri kita, tetapi juga di negara-negara peserta CAFTA, termasuk China.
Demi Kejayaan Indonesia
Memang, China telah menjadi macan ekonomi dunia yang luar biasa dan sulit ditandingi. Nyaris tidak ada negara di dunia saat ini yang tidak dibanjiri produk China. Namun dari berbagai studi di masa lalu, China terbukti tidak pernah menjadi kolonialis seperti Barat. Ketika negeri ini masih disebut Nusantara, interaksi dengan kekaisaran Tiongkok sudah lama terjalin. Dalam praktik dagangnya sekarang, China juga tidak pernah terbukti melakukan praktik dumping.
Kunci utama berbisnis dengan China adalah adanya keuntungan bersama (win-win solution). Akan teapi, di atas semuanya, yang paling tahu tentang China jelas hanya yang punya kedekatan secara etnis atau budaya dengan China, dalam hal ini adalah etnis Tionghoa.
Di atas semuanya pula, yang terpenting segenap komponen anak bangsa perlu merapatkan barisan menjalin sinergi dan memenuhi jiwa dengan semangat pantang menyerah dalam mengejar tujuan. Tujuan bersama kita tentu saja adalah kejayaan Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya.
Faktor Kompetitif Bisnis/Ekonomi China-Indonesia (GCI Indonesia #54 sedangkan China #29)
Setidaknya, ada 12 faktor umum yang mempengaruhi kompetitif bisnis/ekonomi. Dan semua faktor kompetitif bisnis di Indonesia berada dibawah China kecuali faktor efisiensi pasar barang dan jasa. Sisanya seperti faktor sistem birokrasi yang cepat-tepat, infrastruktur, stabilitas ekonomi, inovasi bisnis, efisiensi tenaga kerja dan ukuran pasar di Indonesia jauh tertinggal dibanding China.
Praktik dari peribahasa “kalau bisa dipersulit, mengapa dibuat mudah” tampaknya sulit hilang dari mental para birokrat. Padahal praktik mempersulit bisnis/usaha mengakibatkan ekonomi kita menjadi ekonomi berbiaya tinggi. Sistem birokrasi (1) di Indonesia merupakan salah satu sistem dengan tingkatan terbanyak dan terkompleks. Untuk membuat izin usaha diperlukan waktu dan mekanisme panjang yang (+ tips). Praktik korup (2) ini pula menjadi pelengkap bottle neck untuk ekonomi produksi yang murah (low-cost economy).
Pasar Bebas Indonesia – China dalam Wadah CAFTA
Bisa dipastikan pada 2010 ini jumlah produk China semakin membanjiri pasar Indonesia. Peningkatan permintaan produk dari China tentu akan menguntungkan China karena secara langsung memperluas lapangan pekerjaan di China, disisi lain industri-industri kecil Indonesia akan mulai berguguran yang pada akhirnya berpotensi mengurangi lapangan pekerjaan.
Jauh sebelum penerapan pasar bebas Indonesia-China yang seluas-luasnya per 2010 ini, selama 5 tahun terakhir Indonesia mengalami kerugian (neraca) dalam hubungan kerjasama dagang Indoensia-China. Dalam kurun 2003-2009, Indonesia mengalami defisit (kerugian) perdagangan non-migas dengan China sebesar 12.6 miliar dolar AS atau hampir Rp 120 triliun (lihat gambar tabel dibawah).
Dari tabel di atas, Indonesia hanya mengalami surplus perdagangan dengan China pada 2003 sebesar 535 juta dollar AS, tepatnya 1 tahun sebelum pelaksanaan Free Trade Area. Dan sejak 2004 hingga Nov 2009, Indonesia ‘konsisten’ mengalami defisit perdagangan dengan China dan mencapai defisit terbesar pada 2008 yakni USD -7.2 miliar atau setara Rp 70 triliun. Ini berarti penerapan CAFTA khususnya antara Indonesia-China telah memberi keuntungan yang sangat besar bagi Republik Rakyat China.
Pada tahun 2008, ekspor China ke Indonesia meningkat sebesar 652 % dibanding 2003. Sementara pada periode yang sama, Indonesia hanya mampu meningkatkan ekspor ke China sebesar 265%. Ini berarti, China mendapat keuntungan hampir 3 kali lipat sejak dibukanya perdagangan bebas dengan Indonesia. Jumlah rata-rata penjualan produk China di Indonesia meningkat hingga 400% dalam kurun 5 tahun terakhir. Maka tidaklah heran bilamana berbagai produk yang kita gunakan/temui sehari-hari bertuliskan “MADE IN CHINA“. Mulai dari barang elektronik berteknologi tinggi seperti ponsel, kamera, mp3/mp4/mp5 player, setrika, televisi, motor, mesin-mesin, hingga produk-produk berteknologi rendah seperti pakaian (tekstil), mainan anak-anak, makanan, kertas, jam, pensil, perabot rumah tangga, paku dll.
Meningkatnya produk China yang masuk ke Indonesia tidak lepas dari faktor kompetitf harga. Barang-barang impor dari China relatif lebih murah dibanding produk dari industri lokal. Ditambah dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang lebih mencari barang murah (kurang memperhatikan asal/nasionalisme dan komparasi kualitas), maka secara perlahan pasar produk lokal disaingi oleh produk China.
Bila kran perdagangan bebas China-Indonesia sangat menguntungkan pemerintah China, mengapa Indonesia tidak mampu memanfaatkannya secara maksimum?
Kajian Komparatif Bisnis Ekonomi Indonesia vs China dalam CAFTA
Penyebab terbesar ketimpangan neraca perdagangan non-migas antara China dan Indonesia adalah tingkat kompetitif bisnis-ekonomi Indonesia yang rendah dibanding China. China unggul dalam berbagai faktor produksi barang dan jasa dibanding Indonesia. Dengan upah tenaga kerja yang hampir sama, buruh China bekerja lebih efisien, ulet dan telaten serta keahlian yang lebih memadai. Berdasarkan laporan The Global Competitiveness Report 2009-2010, efisiensi tenaga kerja China menduduki peringkat 32 dari 133 negara. Sementara Indonesia berada diperingkat 75 jauh dibawah China.
Efisiensi tenaga kerja hanya satu dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi ekonomi produksi berbiaya rendah. Dari Global Competitive Index 2009-2010 (GCI), Indonesia menduduki peringkat 54 dari 134 negara. Peringkat GCI Indonesia jauh dibawah China #29, Jepang #8, Taiwan #12, Korea Selatan #19 di Asia Timur. Dikawasan Asia Tenggara, GCI Indonesia jauh dibawah Singapura #3, Malaysia #24, Brunai DS #32 dan Thailand #36. Dan untungnya Indonesia masih diatas Vietnam # 75, Filipina, #87, dan Kamboja #110. Catatan : Laos dan Myanmar tidak masuk dalam 133 negara yang disurvei GCR.








