Posted by famouzrebell on/at 12:59 PM
Menurut Presiden, etnis Tionghoa di Tanah Air memiliki andil yang besar untuk membangun dan mendirikan bangsa Indonesia. Komunitas Tionghoa tidak pernah berhenti untuk berjuang, berupaya, dan bekerja keras untuk memakmurkan negeri tercinta ini. Presiden mengingatkan bahwa di alam demokrasi saat ini tidak boleh lagi muncul diskriminasi yang membeda-bedakan suku, agama, golongan, dan etnis. Menurut Presiden, identitas kita adalah Bhineka Tunggal Ika. Kita satu bangsa, bangsa Indonesia.
Tentu saja etnis Tionghoa di Tanah Air tidak boleh berpuas diri dengan peran yang sudah dilakukan selama ini. Karena kita tahu, tantangan yang harus dihadapi bangsa ini pada saat ini atau ke depannya jelas kian berat dan kompleks. Salah satu tantangan terbesar sekaligus terberat kita adalah implementasi China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) yang sudah mulai berlaku sejak awal tahun 2010. Memang sudah banyak pembahasan tentang CAFTA. Bahkan, di Kantor Sinar Harapan belum lama ini digelar seminar “Peluang dan Tantangan CAFTA” yang dihadiri oleh mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat China Sudrajat, Ketua Umum LIC Sukamdani S Gitosardjono, Ketua Apindo Sofyan Wanandi, pengusaha The Ning King, Direktur Utama PT Sinar Harapan Persada Susanto Sjahir, dan moderator Eka Budianta (Sinar Harapan, 10 Maret 2010).
Anehnya, berbagai pembahasan CAFTA jarang yang menyinggung peran etnis Tionghoa dalam CAFTA. Karena itu seiring harapan Presiden SBY di atas, ada baiknya etnis Tionghoa berperan lebih seiring dengan diimplementasikannya CAFTA.
Kecemasan dan Harapan
Ada yang berpendapat, pasar bebas di mana pun hanya akan memberi tempat pada yang kuat, baik dari sisi modal, kapital maupun kuat dari sisi sumber daya manusia (SDM). Seperti diketahui, China adalah negeri dengan PDB terbesar di antara sebelas negara penandatangan CAFTA, yakni US$ 4.327,4 miliar dan jumlah penduduknya 1,3 miliar jiwa. Serbuan produk China ditakutkan bisa mematikan ekonomi kita, khususnya di level kecil dan menengah.
Tidak heran jika kemudian berkembang wacana agar penerapan CAFTA ditunda dulu, karena kita belum siap bersaing. Namun juga berkembang wacana, CAFTA adalah keniscayaan. Indonesia tidak mungkin menunda, karena CAFTA sudah dirintis sejak 1992 di KTT AFTA di Bogor. CAFTA juga tetap memberi peluang baik, asal kita cerdas. Sementara itu, di sisi lain juga menyeruak rasa optimisme. Karena berdasarkan bukti-bukti sejarah kontak antara China dengan negeri ini ketika masih disebut Nusantara, China tidak pernah menerapkan pendekatan represif, apalagi menjajah. Justru dari beragam bukti sejarah, kontak dengan China ikut mengembangkan peradaban kita.
Kita berharap saja, CAFTA tidak membuat pemerintah China saat ini melupakan bukti-bukti sejarah masa lalu tersebut. Tetapi jujur, kita memang digelayuti perasaan cemas, khususnya ketika melihat serbuan produk China sejak CAFTA diterapkan 1 Januari 2010.
Nah, dalam konteks ini, 15 juta warga negara Indonesia yang beretnis Tionghoa bisa tampil sebagai tameng dan penyelamat. Karena macan Asia atau bahkan macan dunia seperti Tiongkok memang sulit untuk disaingi. Amerika Serikat saja saja kelabakan dan mencari berbagai alasan tiap kali hendak bersaing secara frontal dengan China. Demikian pula banyak negara lain, seperti Uni Eropa atau Australia.
Untuk itu, etnis Tionghoa di Tanah Air bisa berperan dan berkontribusi lebih besar dalam menyikapi CAFTA. Sudah terbukti dalam perjalanan sejarah, ketika semua etnis di Tanah Air dilibatkan, termasuk etnis Tionghoa, masalah-masalah besar yang dihadapi negeri ini bisa terpecahkan. Dalam krisis keuangan global pada 2009 lalu, misalnya, jelas ada peran yang tidak kecil dari etnis ini. Berbeda dengan tahun 1998, ketika ada pelarian modal yang dilakukan etnis Tionghoa, sehingga banyak dana diparkir di luar negeri seperti Singapura, krisis moneter 1998 amat telak memukul negeri ini.
Tentu melibatkan etnis Tionghoa untuk berperan lebih besar dalam menyikapi CAFTA yang membutuhkan kepercayaan. Semisal, jangan ada keragu-raguan terkait komitmen nasionalisme atau patriotisme dari etnis ini.
Saling percaya antara sesama warga bangsa harus ditumbuhkan. Kecurigaan bahwa etnis ini pasti akan lebih berpihak pada Tiongkok dan mengabaikan kepentingan nasional, harus diakhiri. Peran atau kontribusi itu konkretnya bisa dicari atau digali dari etnis Tionghoa.
Berbagai hal yang strategis untuk melindungi kepentingan nasional kita seiring implementasi CAFTA, harus dirumuskan. Misalnya, tentang kiat berdagang dengan China, jelas yang ahli adalah para eksportir atau importir, serta pelaku dalam jaringan perdagangan antara Tiongkok dan Indonesia.
Lalu para pakar soal China seperti I Wibowo dari Universitas Indonesia, juga para pelaku bisnis beretnis Tionghoa seperti Ciputra, Mochtar Riyadi atau Ali Markus dan sebagainya, bisa dimintai pandangannya tentang caranya memformulasikan strategi paling efektif dalam berhadapan dengan China.
Kalau tiap masalah diserahkan pada ahlinya, jelas akan lebih mudah dipecahkan. Dengan memiliki strategi yang jitu dan dirumuskan secara sistematis, jelas kita akan tampil lebih siap dalam menghadapi pasar bebas, khususnya dalam menghadapi Tiongkok.
Yang penting lagi, para pengusaha Tionghoa di Indonesia juga jangan gampang mem-PHK dalam menyikapi CAFTA. Masalahnya, ada ketakutan besar di berbagai organisasi pekerja bahwa akan ada jutaan pekerja di-PHK seiring penerapan CAFTA. Tingkat pemutusan hubungan kerja akibat implementasi perjanjian perdagangan bebas ASEAN dan China berpotensi meningkat.
Menurut Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto, sekitar 7,5 juta buruh kemungkinan bisa di-PHK. Yang ditakutkan lagi, banyak buruh justru berpikir jangan-jangan CAFTA hanya akan dijadikan alasan untuk mem-PHK buruh. Ketakutan akan PHK ini bukan hanya terjadi di negeri kita, tetapi juga di negara-negara peserta CAFTA, termasuk China.
Demi Kejayaan Indonesia
Memang, China telah menjadi macan ekonomi dunia yang luar biasa dan sulit ditandingi. Nyaris tidak ada negara di dunia saat ini yang tidak dibanjiri produk China. Namun dari berbagai studi di masa lalu, China terbukti tidak pernah menjadi kolonialis seperti Barat. Ketika negeri ini masih disebut Nusantara, interaksi dengan kekaisaran Tiongkok sudah lama terjalin. Dalam praktik dagangnya sekarang, China juga tidak pernah terbukti melakukan praktik dumping.
Kunci utama berbisnis dengan China adalah adanya keuntungan bersama (win-win solution). Akan teapi, di atas semuanya, yang paling tahu tentang China jelas hanya yang punya kedekatan secara etnis atau budaya dengan China, dalam hal ini adalah etnis Tionghoa.
Di atas semuanya pula, yang terpenting segenap komponen anak bangsa perlu merapatkan barisan menjalin sinergi dan memenuhi jiwa dengan semangat pantang menyerah dalam mengejar tujuan. Tujuan bersama kita tentu saja adalah kejayaan Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya.
Tentu saja etnis Tionghoa di Tanah Air tidak boleh berpuas diri dengan peran yang sudah dilakukan selama ini. Karena kita tahu, tantangan yang harus dihadapi bangsa ini pada saat ini atau ke depannya jelas kian berat dan kompleks. Salah satu tantangan terbesar sekaligus terberat kita adalah implementasi China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) yang sudah mulai berlaku sejak awal tahun 2010. Memang sudah banyak pembahasan tentang CAFTA. Bahkan, di Kantor Sinar Harapan belum lama ini digelar seminar “Peluang dan Tantangan CAFTA” yang dihadiri oleh mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat China Sudrajat, Ketua Umum LIC Sukamdani S Gitosardjono, Ketua Apindo Sofyan Wanandi, pengusaha The Ning King, Direktur Utama PT Sinar Harapan Persada Susanto Sjahir, dan moderator Eka Budianta (Sinar Harapan, 10 Maret 2010).
Anehnya, berbagai pembahasan CAFTA jarang yang menyinggung peran etnis Tionghoa dalam CAFTA. Karena itu seiring harapan Presiden SBY di atas, ada baiknya etnis Tionghoa berperan lebih seiring dengan diimplementasikannya CAFTA.
Kecemasan dan Harapan
Ada yang berpendapat, pasar bebas di mana pun hanya akan memberi tempat pada yang kuat, baik dari sisi modal, kapital maupun kuat dari sisi sumber daya manusia (SDM). Seperti diketahui, China adalah negeri dengan PDB terbesar di antara sebelas negara penandatangan CAFTA, yakni US$ 4.327,4 miliar dan jumlah penduduknya 1,3 miliar jiwa. Serbuan produk China ditakutkan bisa mematikan ekonomi kita, khususnya di level kecil dan menengah.
Tidak heran jika kemudian berkembang wacana agar penerapan CAFTA ditunda dulu, karena kita belum siap bersaing. Namun juga berkembang wacana, CAFTA adalah keniscayaan. Indonesia tidak mungkin menunda, karena CAFTA sudah dirintis sejak 1992 di KTT AFTA di Bogor. CAFTA juga tetap memberi peluang baik, asal kita cerdas. Sementara itu, di sisi lain juga menyeruak rasa optimisme. Karena berdasarkan bukti-bukti sejarah kontak antara China dengan negeri ini ketika masih disebut Nusantara, China tidak pernah menerapkan pendekatan represif, apalagi menjajah. Justru dari beragam bukti sejarah, kontak dengan China ikut mengembangkan peradaban kita.
Kita berharap saja, CAFTA tidak membuat pemerintah China saat ini melupakan bukti-bukti sejarah masa lalu tersebut. Tetapi jujur, kita memang digelayuti perasaan cemas, khususnya ketika melihat serbuan produk China sejak CAFTA diterapkan 1 Januari 2010.
Nah, dalam konteks ini, 15 juta warga negara Indonesia yang beretnis Tionghoa bisa tampil sebagai tameng dan penyelamat. Karena macan Asia atau bahkan macan dunia seperti Tiongkok memang sulit untuk disaingi. Amerika Serikat saja saja kelabakan dan mencari berbagai alasan tiap kali hendak bersaing secara frontal dengan China. Demikian pula banyak negara lain, seperti Uni Eropa atau Australia.
Untuk itu, etnis Tionghoa di Tanah Air bisa berperan dan berkontribusi lebih besar dalam menyikapi CAFTA. Sudah terbukti dalam perjalanan sejarah, ketika semua etnis di Tanah Air dilibatkan, termasuk etnis Tionghoa, masalah-masalah besar yang dihadapi negeri ini bisa terpecahkan. Dalam krisis keuangan global pada 2009 lalu, misalnya, jelas ada peran yang tidak kecil dari etnis ini. Berbeda dengan tahun 1998, ketika ada pelarian modal yang dilakukan etnis Tionghoa, sehingga banyak dana diparkir di luar negeri seperti Singapura, krisis moneter 1998 amat telak memukul negeri ini.
Tentu melibatkan etnis Tionghoa untuk berperan lebih besar dalam menyikapi CAFTA yang membutuhkan kepercayaan. Semisal, jangan ada keragu-raguan terkait komitmen nasionalisme atau patriotisme dari etnis ini.
Saling percaya antara sesama warga bangsa harus ditumbuhkan. Kecurigaan bahwa etnis ini pasti akan lebih berpihak pada Tiongkok dan mengabaikan kepentingan nasional, harus diakhiri. Peran atau kontribusi itu konkretnya bisa dicari atau digali dari etnis Tionghoa.
Berbagai hal yang strategis untuk melindungi kepentingan nasional kita seiring implementasi CAFTA, harus dirumuskan. Misalnya, tentang kiat berdagang dengan China, jelas yang ahli adalah para eksportir atau importir, serta pelaku dalam jaringan perdagangan antara Tiongkok dan Indonesia.
Lalu para pakar soal China seperti I Wibowo dari Universitas Indonesia, juga para pelaku bisnis beretnis Tionghoa seperti Ciputra, Mochtar Riyadi atau Ali Markus dan sebagainya, bisa dimintai pandangannya tentang caranya memformulasikan strategi paling efektif dalam berhadapan dengan China.
Kalau tiap masalah diserahkan pada ahlinya, jelas akan lebih mudah dipecahkan. Dengan memiliki strategi yang jitu dan dirumuskan secara sistematis, jelas kita akan tampil lebih siap dalam menghadapi pasar bebas, khususnya dalam menghadapi Tiongkok.
Yang penting lagi, para pengusaha Tionghoa di Indonesia juga jangan gampang mem-PHK dalam menyikapi CAFTA. Masalahnya, ada ketakutan besar di berbagai organisasi pekerja bahwa akan ada jutaan pekerja di-PHK seiring penerapan CAFTA. Tingkat pemutusan hubungan kerja akibat implementasi perjanjian perdagangan bebas ASEAN dan China berpotensi meningkat.
Menurut Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto, sekitar 7,5 juta buruh kemungkinan bisa di-PHK. Yang ditakutkan lagi, banyak buruh justru berpikir jangan-jangan CAFTA hanya akan dijadikan alasan untuk mem-PHK buruh. Ketakutan akan PHK ini bukan hanya terjadi di negeri kita, tetapi juga di negara-negara peserta CAFTA, termasuk China.
Demi Kejayaan Indonesia
Memang, China telah menjadi macan ekonomi dunia yang luar biasa dan sulit ditandingi. Nyaris tidak ada negara di dunia saat ini yang tidak dibanjiri produk China. Namun dari berbagai studi di masa lalu, China terbukti tidak pernah menjadi kolonialis seperti Barat. Ketika negeri ini masih disebut Nusantara, interaksi dengan kekaisaran Tiongkok sudah lama terjalin. Dalam praktik dagangnya sekarang, China juga tidak pernah terbukti melakukan praktik dumping.
Kunci utama berbisnis dengan China adalah adanya keuntungan bersama (win-win solution). Akan teapi, di atas semuanya, yang paling tahu tentang China jelas hanya yang punya kedekatan secara etnis atau budaya dengan China, dalam hal ini adalah etnis Tionghoa.
Di atas semuanya pula, yang terpenting segenap komponen anak bangsa perlu merapatkan barisan menjalin sinergi dan memenuhi jiwa dengan semangat pantang menyerah dalam mengejar tujuan. Tujuan bersama kita tentu saja adalah kejayaan Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya.











0 komentar:
Poskan Komentar